Tradisi "Manjapuik Batu Pusaro", Gubernur Sumbar Katakan Selamat Jalan Abak - MuraiNews | Informasi Dari Kita untuk Kita
arrow_upward
settings_brightness
Salah satu warga Nagari Gaduik Manjapuik Batu Pusaro" untuk diantarkan ke makam Mardanis St. Tanameh. (foto : nov)

AGAM, murainews.com -- Warga Nagari Gaduik Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, Minggu (11/9/2022), tumpah Ruah mengiringi Adat "Manjapuik Batu Pusaro" untuk diantarkan ke makam Mardanis St. Tanameh (83) yang merupakan ayah kandung dari Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah Datuak Marajo.

Manjapuik Batu Pusaro adalah prosesi dalam rangkaian peristiwa dimana seseorang meninggal dunia dalam tatanan adat di Minangkabau, pada prinsipnya sama yaitu menandai kuburan (tanah tasirah) dengan Batu Nisan. 

Adat Manjapuik Batu ini sangat berbeda, hanya ada di Nagari Gaduik. Kegiatan ini dilakukan pada setiap hari Minggu atau pada hari libur, setelah empat hari atau lebih usai pemakaman.

Ratusan Warga Nagari Gaduik membawa Batu tersebut mengelilingi kampung sepanjang hampir 4 km dengan jalan yang menanjak. Tradisi ini sudah berlangsung sejak lama dan menjadi bagian dalam suatu kehidupan masyarakat warga Gaduik.

Uniknya, tradisi Manjapuik Batu dimulai usai sholat Shubuh, sebelum matahari terbit, untuk menjemput batu hanya kaum pria. Tradisi ini merupakan suatu kebiasaan yang telah menjadi kebudayaan dalam tatanan adat di kenagarian Gaduik yang telah ditradisikan dari dulunya sejak nenek moyang dan leluhur yang telah mendahului. 

Kepedulian dan kekompakan warga Nagari Gaduik terlihat sekali, iring iringan arakan batu untuk pusara terlihat panjang. Hampir 200 meter diringi para kaum laki laki. 

Pada kesempatan prosesi Manjapuik Batu Pusaro tersebut, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi menyampaikan terima kasih kepada semua kalangan atas segala bantuannya dan do'a do'a untuk Abak (orangtua laki laki) Mardanis St. Tanameh.

"Atas nama keluarga kami menghaturkan terima kasih. InsyaAllah semua kebaikan ini, dibalas oleh Allah SWT," kata Mahyeldi.

Buya Mahyeldi, panggilan akrabnya pun kembali mencerita bagaimana Abak mendidik anak anaknya dengan penuh kasih sayang tanpa membeda bedakan anaknya.

"Selamat jalan Abak tercinta, do'a kami selalu menyertai mu," tuturnya.

Para pemuka Adat, Niniak Mamak, tokoh masyarakat setempat, terlihat saling sambah-manyambah pituah adat dimulai dengan awalnya dari pihak kemalangan (tuan rumah).

Karena Gubernur Mahyeldi juga seorang Datuak Panghulu (Datuak Marajo) di daerahnya, ia juga menyampaikan pituahnya disambung kembali para Datuak Datuak lainnya.

"Mohon maaf jika ada salah Abak selama ini, dalam hidupnya tentunya tidak luput dari kesalahan baim disengaja maupun tidak," ucapnya.

Tradisi "Manjapuik Batu Pusaro"  adalah tradisi upacara kematian (ziarah kubur) di Minangkabau khususnya di Nagari Gaduik dilakukan disana adalah mendoakan almarhum dan membersihkan dan merapikan kuburan tersebut.

Anehnya, tradisi ini cuma adanya di Nagari Gaduik saja, sedangkan selain Nagari Gaduik tidak menganut tradisi tersebut. Tradisi "Manjapuik Batu Pusaro" ini merupakan ajaran Islam yang dihayati dalam pedoman hidup di wilayah Minangkabau, yang menjadi  khasanah budaya Minangkabau adalah "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah". (nov)

Tradisi "Manjapuik Batu Pusaro", Gubernur Sumbar Katakan Selamat Jalan Abak

Sunday, September 11, 2022 : 2:31:00 PM
Salah satu warga Nagari Gaduik Manjapuik Batu Pusaro" untuk diantarkan ke makam Mardanis St. Tanameh. (foto : nov)

AGAM, murainews.com -- Warga Nagari Gaduik Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, Minggu (11/9/2022), tumpah Ruah mengiringi Adat "Manjapuik Batu Pusaro" untuk diantarkan ke makam Mardanis St. Tanameh (83) yang merupakan ayah kandung dari Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah Datuak Marajo.

Manjapuik Batu Pusaro adalah prosesi dalam rangkaian peristiwa dimana seseorang meninggal dunia dalam tatanan adat di Minangkabau, pada prinsipnya sama yaitu menandai kuburan (tanah tasirah) dengan Batu Nisan. 

Adat Manjapuik Batu ini sangat berbeda, hanya ada di Nagari Gaduik. Kegiatan ini dilakukan pada setiap hari Minggu atau pada hari libur, setelah empat hari atau lebih usai pemakaman.

Ratusan Warga Nagari Gaduik membawa Batu tersebut mengelilingi kampung sepanjang hampir 4 km dengan jalan yang menanjak. Tradisi ini sudah berlangsung sejak lama dan menjadi bagian dalam suatu kehidupan masyarakat warga Gaduik.

Uniknya, tradisi Manjapuik Batu dimulai usai sholat Shubuh, sebelum matahari terbit, untuk menjemput batu hanya kaum pria. Tradisi ini merupakan suatu kebiasaan yang telah menjadi kebudayaan dalam tatanan adat di kenagarian Gaduik yang telah ditradisikan dari dulunya sejak nenek moyang dan leluhur yang telah mendahului. 

Kepedulian dan kekompakan warga Nagari Gaduik terlihat sekali, iring iringan arakan batu untuk pusara terlihat panjang. Hampir 200 meter diringi para kaum laki laki. 

Pada kesempatan prosesi Manjapuik Batu Pusaro tersebut, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi menyampaikan terima kasih kepada semua kalangan atas segala bantuannya dan do'a do'a untuk Abak (orangtua laki laki) Mardanis St. Tanameh.

"Atas nama keluarga kami menghaturkan terima kasih. InsyaAllah semua kebaikan ini, dibalas oleh Allah SWT," kata Mahyeldi.

Buya Mahyeldi, panggilan akrabnya pun kembali mencerita bagaimana Abak mendidik anak anaknya dengan penuh kasih sayang tanpa membeda bedakan anaknya.

"Selamat jalan Abak tercinta, do'a kami selalu menyertai mu," tuturnya.

Para pemuka Adat, Niniak Mamak, tokoh masyarakat setempat, terlihat saling sambah-manyambah pituah adat dimulai dengan awalnya dari pihak kemalangan (tuan rumah).

Karena Gubernur Mahyeldi juga seorang Datuak Panghulu (Datuak Marajo) di daerahnya, ia juga menyampaikan pituahnya disambung kembali para Datuak Datuak lainnya.

"Mohon maaf jika ada salah Abak selama ini, dalam hidupnya tentunya tidak luput dari kesalahan baim disengaja maupun tidak," ucapnya.

Tradisi "Manjapuik Batu Pusaro"  adalah tradisi upacara kematian (ziarah kubur) di Minangkabau khususnya di Nagari Gaduik dilakukan disana adalah mendoakan almarhum dan membersihkan dan merapikan kuburan tersebut.

Anehnya, tradisi ini cuma adanya di Nagari Gaduik saja, sedangkan selain Nagari Gaduik tidak menganut tradisi tersebut. Tradisi "Manjapuik Batu Pusaro" ini merupakan ajaran Islam yang dihayati dalam pedoman hidup di wilayah Minangkabau, yang menjadi  khasanah budaya Minangkabau adalah "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah". (nov)