Hadiri Festival Pamalayu, Gubernur Sumbar Katakan Sungai Batanghari Pemersatu Dua Provinsi - MuraiNews | Informasi Dari Kita untuk Kita
arrow_upward
settings_brightness
Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah, Dirjen Kebudayaan Kemdikbud RI, Hilmar Farid dan Gubernur Jambi Al Haris membicarakan kelestarian Sungai Batanghari ke depan. (foto : nov)

DHARMASRAYA, murainews.com -- Ribuan masyarakat terlihat tumpah ruah disekitar sungai Batanghari, tampak masyarakat antusias menyaksikan pelepasan puluhan Tempek (perahu) yang menuju lokasi perhelatan Pamalayu di Candi Pulau Sawah.

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah Datuak Marajo yang ikut menghadiri acara penutupan Festival Pamalayu Kenduri Swarnabhumi terlihat bangga menikmati berbagai suguhan seni budaya yang ada di daerah.

Acara penutupan Festival Pamalayu Kenduri Swarnabhumi diselenggarakan di Kabupaten Dharmasraya Provinsi Sumatera Barat tepatnya di Kawasan Candi Pulau Sawah, Kenagarian Siguntur, Daerah Aliran Sungai Batanghari, Selasa (23/8/2022).

Dalam sambutannya Gubernur Mahyeldi menyambut baik dan apresiasi atas diselenggarakan Rangkaian Kegiatan Festival Pamalayu Kenduri Swarnabhumi ini yang secara konsisten dan kontinyu menggagas dan menyelenggarakan kegiatan dimaksud.

"Atas nama Pemerintah Provinsi Sumbar, saya menyampaikan terima kasih, karena kegiatan ini sebagai bagian dari upaya kita semua untuk melestarikan sungai Batanghari yang memghubungkan dua provinsi, yaitu Sumbar dan Jambi," ujarnya.

Persis 736 tahun yang lalu (tepatnya 22 Agustus tahun 1286, salah satunya tempat kita berdiri ini, berada di puncak kejayaan. Pulau ini dikenal dengan Pulau Sumatera, Andalas, atau disebut juga dengan Pulau Perca /Swarna Dwipa dan hari ini sering kita sebut-sebut dengan Swarnabhumi (ditulis Svarnabhumi).

"Sebagaimana kita ketahui, kebudayaan tertua memang berasal dari sungai, itu makanya kota kota yang cepat berkembang adalah dipinggiran sungai," sebutnya.

Dalam hal ini, Gubernur Sumbar pun memuji langkah Bupati Dharmasraya diselenggarakannya Festival Pamalayu Kenduri Swarnabhumi dengan menghadap ke sungai.

"Terselenggarannya acara ini, merupakan suatu langkah yang tepat, karena sungai merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat," sebutnya.

Kegiatan Kenduri Swarnabhumi merupakan upaya menghubungkan kembali, menyebarluaskan dan memperkuat kebudayaan Melayu dengan berbagai kegiatan di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari.

Di sepanjang aliran Sungai Batanghari menyimpan banyak sejarah dan Keragaman budaya. Untuk itu, saatnya bersama gali kembali dan mari-sama bangkitkan kembali kejayaan masa akhirnya untuk kebahagiaan dan kejayaan hari ini dan masa yang akan datang.

Sungai Batanghari yang membentang sepanjang Pulau Sumatera dan tercatat sungai terpanjang disepanjang Pulau Sumatera (lebih kurang 800 Km.) menyimpan banyak cerita, sejarah dan tentunya kekayaan budaya/ wrisan budaya (baik benda / Cagar Budaya, maupun warisan budaya takbenda). Candi Pulau Sawah tempat penyelenggaraan kegiatan ini merupakan slah satu bukti peninggalan sejarah dan budaya tersebut.

"Jangan lupa sungai Batanghari menghubungkan dua provinsi, banyak nilai sejarah disini. Cintai Budaya Kita, Lestarikan Sungai," ujar Mahyeldi.

Menurutnya, masyarakat sekitar sungai Batanghari patut berbagga, karena selain sungai Batanghari merupakah salah satu sungai terbesar di Indonesia, daerah ini, kaya dengan aneka seni, dan budaya yang sangat unik dan beragam.

"Kegiatan Pamalayu Kenduri Swarnabhumi merupakan salah satu upaya untuk terus melestarikan budaya dan memperkenalkan kepada masyarakat luas," kata Mahyeldi.

Patut juga disadari bersama, disamping potensi yang dimiliki disepanjang Sungai Batanghari, juga memiliki tantangan yang tidak ringan, seperti pencemaran lingkugan, sosial budaya yang berdampak (negatif) kepada masyarakat, terutama dalam merawat sungai dan pelestarian terhadap warisan budaya. 

Melalui kegiatan ini diharapkan dapat memberikan solusi dalam manjawab tantangan dan hambatan. Ini menjadi tanggungjawab bersama. 

"Semoga ke depan kegiatan kolaborasi ini dapat kita laksanakan secara berkesinambungan," tuturnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemdikbud RI, Hilmar Farid menyampaikan Sungai Batanghari merupakan sumber penghidupan bagi masyarakat Dharmasraya sejak zaman dahulu kala.

Melihat sejarah yang sudah diceritakan, kalau benar di Muaro Jambi ini candi sudah dibangun pada abad ke-7, dan kemudian terus selama 700 tahun mengalir ke hilir peradaban itu.

"Maka bisa kita bayangkan betapa besarnya peradaban Sungai Batanghari dalam perkembangan kebudayaan melayu di Pulau Sumatera," sebut Hilmar.

Menurutnya, dulunya betapa bersihnya sungai Batanghari, setelah 30 tahun belakangan ini, sungai Batanghari sudah keruh, sehingga tidak bisa lagi berenang.

"Melalui Festival Pamalayu Kenduri Swanabhumi ini, agar kita bisa menyadari dan mengingat kita semua, terutama generasi muda agar kita bisa bersama sama kembali menjaga sungai sumber kehidupan kita," ajaknya.

Selain itu, Hilmar tak menampik sepanjang aliran Sungai Batanghari tersimpan peninggalan warisan yang luar biasa salah satunya seperti candi.

"Kalau benar candi sudah dibangun pada abad ke 7 dan  terus selama 700 tahun mengalir ke hilir peradaban tersebut, maka bisa kita bayangkan betapa besarnya peradaban Sungai Batanghari dalam perkembangan kebudayaan melayu di Pulau Sumatera," terangnya.

Banyak sejarah yang tersimpan di sungai Batanghari peninggalan nenek moyang yang luar biasa, bukan hanya candi, sumber pengetahuan tradisional mengenai alam dan lingkungan, serta kearifan lokal yang diwariskan turun temurun.

Festival Pamalayu Kenduri Swanabhumi memang telah berakhir untuk saat ini. Namun ini menjadi awal dari perjalanan panjang untuk mewujudkan Sungai Batanghari menjadi bumi emas.

"Perlu kita lestarikan dan kita jaga bersama," imbuhnya.

Bupati Dharmasraya, Sutan Riska Tuanku Kerajaan sebagai tuan rumah mengaku kegiatan ini adalah dalam rangka menjaga peradaban yang ada di sepanjang Sungai Batanghari.

"Perlu kerjasama yang kongkrit untuk menjaga sungai yang menjadi sumber penghidupan masyarakat serta peninggalan peradaban yang harus terus di jaga," katanya.

Pada gelaran Festival Pamalayu tahun ini Pemkab Dharmasraya mendapatkan dukungan penuh dari Kemendikbudristik melalui Dirjen Kebudayaan. Sutan Riska mengucapkan terimakasih kepada selurih pihak yang telah mendukung dan menyukseskan pelaksanaan Festival tahun ini.

“Alhamdulillah, acara ini berjalan sesuai rencana kita. Sebelumnya acara ini sempat tertunda karena pandemi COVID-19," ujar Sutan Riska.

Ia berharap Festival Pamalayu dapat menjadi saran pembelajaran bagi anak bangsa, karena banyak sejarah yang bisa diketahui, terutama sejarah peradaban masa lampau Dharmasraya itu sendiri.

"Perlu terus kita kampanyekan kepada generasi penerus dan saya berharap Sungai Batanghari yang menjadi kebanggaan masyarakat Dharmasraya makin membaik," tambahnya. 

Ikut hadir dalam acara tersebut Gubernur Jambi Dr. Al Haris, S.Sos. M.H, Ketua Bundokanduang Provinsi Sumatera Barat, Prof. Dr. Raudha Taib,MP, Direktur Dilingkungan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknnologi, Forkopimda, Sekda dan Kepala OPD Kab. Dharmasraya. (nov)

Hadiri Festival Pamalayu, Gubernur Sumbar Katakan Sungai Batanghari Pemersatu Dua Provinsi

Tuesday, August 23, 2022 : 8:07:00 PM
Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah, Dirjen Kebudayaan Kemdikbud RI, Hilmar Farid dan Gubernur Jambi Al Haris membicarakan kelestarian Sungai Batanghari ke depan. (foto : nov)

DHARMASRAYA, murainews.com -- Ribuan masyarakat terlihat tumpah ruah disekitar sungai Batanghari, tampak masyarakat antusias menyaksikan pelepasan puluhan Tempek (perahu) yang menuju lokasi perhelatan Pamalayu di Candi Pulau Sawah.

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah Datuak Marajo yang ikut menghadiri acara penutupan Festival Pamalayu Kenduri Swarnabhumi terlihat bangga menikmati berbagai suguhan seni budaya yang ada di daerah.

Acara penutupan Festival Pamalayu Kenduri Swarnabhumi diselenggarakan di Kabupaten Dharmasraya Provinsi Sumatera Barat tepatnya di Kawasan Candi Pulau Sawah, Kenagarian Siguntur, Daerah Aliran Sungai Batanghari, Selasa (23/8/2022).

Dalam sambutannya Gubernur Mahyeldi menyambut baik dan apresiasi atas diselenggarakan Rangkaian Kegiatan Festival Pamalayu Kenduri Swarnabhumi ini yang secara konsisten dan kontinyu menggagas dan menyelenggarakan kegiatan dimaksud.

"Atas nama Pemerintah Provinsi Sumbar, saya menyampaikan terima kasih, karena kegiatan ini sebagai bagian dari upaya kita semua untuk melestarikan sungai Batanghari yang memghubungkan dua provinsi, yaitu Sumbar dan Jambi," ujarnya.

Persis 736 tahun yang lalu (tepatnya 22 Agustus tahun 1286, salah satunya tempat kita berdiri ini, berada di puncak kejayaan. Pulau ini dikenal dengan Pulau Sumatera, Andalas, atau disebut juga dengan Pulau Perca /Swarna Dwipa dan hari ini sering kita sebut-sebut dengan Swarnabhumi (ditulis Svarnabhumi).

"Sebagaimana kita ketahui, kebudayaan tertua memang berasal dari sungai, itu makanya kota kota yang cepat berkembang adalah dipinggiran sungai," sebutnya.

Dalam hal ini, Gubernur Sumbar pun memuji langkah Bupati Dharmasraya diselenggarakannya Festival Pamalayu Kenduri Swarnabhumi dengan menghadap ke sungai.

"Terselenggarannya acara ini, merupakan suatu langkah yang tepat, karena sungai merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat," sebutnya.

Kegiatan Kenduri Swarnabhumi merupakan upaya menghubungkan kembali, menyebarluaskan dan memperkuat kebudayaan Melayu dengan berbagai kegiatan di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari.

Di sepanjang aliran Sungai Batanghari menyimpan banyak sejarah dan Keragaman budaya. Untuk itu, saatnya bersama gali kembali dan mari-sama bangkitkan kembali kejayaan masa akhirnya untuk kebahagiaan dan kejayaan hari ini dan masa yang akan datang.

Sungai Batanghari yang membentang sepanjang Pulau Sumatera dan tercatat sungai terpanjang disepanjang Pulau Sumatera (lebih kurang 800 Km.) menyimpan banyak cerita, sejarah dan tentunya kekayaan budaya/ wrisan budaya (baik benda / Cagar Budaya, maupun warisan budaya takbenda). Candi Pulau Sawah tempat penyelenggaraan kegiatan ini merupakan slah satu bukti peninggalan sejarah dan budaya tersebut.

"Jangan lupa sungai Batanghari menghubungkan dua provinsi, banyak nilai sejarah disini. Cintai Budaya Kita, Lestarikan Sungai," ujar Mahyeldi.

Menurutnya, masyarakat sekitar sungai Batanghari patut berbagga, karena selain sungai Batanghari merupakah salah satu sungai terbesar di Indonesia, daerah ini, kaya dengan aneka seni, dan budaya yang sangat unik dan beragam.

"Kegiatan Pamalayu Kenduri Swarnabhumi merupakan salah satu upaya untuk terus melestarikan budaya dan memperkenalkan kepada masyarakat luas," kata Mahyeldi.

Patut juga disadari bersama, disamping potensi yang dimiliki disepanjang Sungai Batanghari, juga memiliki tantangan yang tidak ringan, seperti pencemaran lingkugan, sosial budaya yang berdampak (negatif) kepada masyarakat, terutama dalam merawat sungai dan pelestarian terhadap warisan budaya. 

Melalui kegiatan ini diharapkan dapat memberikan solusi dalam manjawab tantangan dan hambatan. Ini menjadi tanggungjawab bersama. 

"Semoga ke depan kegiatan kolaborasi ini dapat kita laksanakan secara berkesinambungan," tuturnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemdikbud RI, Hilmar Farid menyampaikan Sungai Batanghari merupakan sumber penghidupan bagi masyarakat Dharmasraya sejak zaman dahulu kala.

Melihat sejarah yang sudah diceritakan, kalau benar di Muaro Jambi ini candi sudah dibangun pada abad ke-7, dan kemudian terus selama 700 tahun mengalir ke hilir peradaban itu.

"Maka bisa kita bayangkan betapa besarnya peradaban Sungai Batanghari dalam perkembangan kebudayaan melayu di Pulau Sumatera," sebut Hilmar.

Menurutnya, dulunya betapa bersihnya sungai Batanghari, setelah 30 tahun belakangan ini, sungai Batanghari sudah keruh, sehingga tidak bisa lagi berenang.

"Melalui Festival Pamalayu Kenduri Swanabhumi ini, agar kita bisa menyadari dan mengingat kita semua, terutama generasi muda agar kita bisa bersama sama kembali menjaga sungai sumber kehidupan kita," ajaknya.

Selain itu, Hilmar tak menampik sepanjang aliran Sungai Batanghari tersimpan peninggalan warisan yang luar biasa salah satunya seperti candi.

"Kalau benar candi sudah dibangun pada abad ke 7 dan  terus selama 700 tahun mengalir ke hilir peradaban tersebut, maka bisa kita bayangkan betapa besarnya peradaban Sungai Batanghari dalam perkembangan kebudayaan melayu di Pulau Sumatera," terangnya.

Banyak sejarah yang tersimpan di sungai Batanghari peninggalan nenek moyang yang luar biasa, bukan hanya candi, sumber pengetahuan tradisional mengenai alam dan lingkungan, serta kearifan lokal yang diwariskan turun temurun.

Festival Pamalayu Kenduri Swanabhumi memang telah berakhir untuk saat ini. Namun ini menjadi awal dari perjalanan panjang untuk mewujudkan Sungai Batanghari menjadi bumi emas.

"Perlu kita lestarikan dan kita jaga bersama," imbuhnya.

Bupati Dharmasraya, Sutan Riska Tuanku Kerajaan sebagai tuan rumah mengaku kegiatan ini adalah dalam rangka menjaga peradaban yang ada di sepanjang Sungai Batanghari.

"Perlu kerjasama yang kongkrit untuk menjaga sungai yang menjadi sumber penghidupan masyarakat serta peninggalan peradaban yang harus terus di jaga," katanya.

Pada gelaran Festival Pamalayu tahun ini Pemkab Dharmasraya mendapatkan dukungan penuh dari Kemendikbudristik melalui Dirjen Kebudayaan. Sutan Riska mengucapkan terimakasih kepada selurih pihak yang telah mendukung dan menyukseskan pelaksanaan Festival tahun ini.

“Alhamdulillah, acara ini berjalan sesuai rencana kita. Sebelumnya acara ini sempat tertunda karena pandemi COVID-19," ujar Sutan Riska.

Ia berharap Festival Pamalayu dapat menjadi saran pembelajaran bagi anak bangsa, karena banyak sejarah yang bisa diketahui, terutama sejarah peradaban masa lampau Dharmasraya itu sendiri.

"Perlu terus kita kampanyekan kepada generasi penerus dan saya berharap Sungai Batanghari yang menjadi kebanggaan masyarakat Dharmasraya makin membaik," tambahnya. 

Ikut hadir dalam acara tersebut Gubernur Jambi Dr. Al Haris, S.Sos. M.H, Ketua Bundokanduang Provinsi Sumatera Barat, Prof. Dr. Raudha Taib,MP, Direktur Dilingkungan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknnologi, Forkopimda, Sekda dan Kepala OPD Kab. Dharmasraya. (nov)