Wagub Sumbar : Ikan Bilih Satu Satunya di Dunia yang Hampir Punah, Ayo Selamatkan Kelestariannya. - MuraiNews | Informasi Dari Kita untuk Kita
arrow_upward
settings_brightness
Wagub Sumbar Audy Joinaldy melepas benih ikan bilih sebanyak 4000 ekor di area konservasi ikan bilih di Nagari Sumpur Kabupaten Tanah Datar. (foto : nov)

TANAH DATAR, murainews.com -- Nagari Sumpur di Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat merupakan Desa Istimewa yang masuk 50 besar anugrah desa wisata Indonesia 2021 yang diadakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

"Suatu kebanggaan bagi Sumbar, dari 34 Provinsi dan 1.800 desa wisata di Indonesia yang mendaftar melalui situs Jadesta, Nagari Sumpu masuk dalam 50 besar," kata Audy Joinaldy.

Hal ini disampaikan Wakil Gubernur Sumatera Barat Audy Joinaldy saat meresmikan area konservasi ikan bilih dan penebaran benih ikan bilih ke habitat aslinya (IN-SITU) di Nagari Sumpur Kabupaten Tanah Datar, Sabtu (30/7/2022).

Sebanyak 4000 benih ikan bilih dilepas oleh Wagub Audy Joinaldy dan berharap menambah populasi ikan bilih di Danau Singkarak dan bisa membantu perekonomian warga.

"Nagari Sumpur memang luar biasa yang merupakan Desa yang istimewa banyak yang bisa ditonjolkan di sini diantaranya atraksi tari, Silek Aia, manjalo ikan dan makan bajamba di homestay rumah gadang yang bersih, nyaman dan sejuk," sebutnya.

Disamping itu, Nagari Sumpur memiliki Danau Singkarak yang indah terdapat jenis ikan endemik, satu satunya di danau yaitu Ikan Bilih (Mystacoleuseus padangensis).  

Danau Singkarak saat ini merupakan salah satu Danau Prioritas Nasional yang perlu diselamatkan berdasarkan Perpres 60 Tahun 2021. 

"Kenapa diselamatkan, karena Danau Singkarak memilik ikan bilih satu satunya di dunia yang hampir punah keberadaannya," ucapnya.

Ikan Bilih menjadi icon danau Singkarak yang dikenal tidak hanya lokal bahkan mendunia. Sekitar 1200 nelayan menggantungkan hidup dari penangkap ikan di Danau Singkarak. 

Olahan Bilih sangat digemari oleh masyarakat mulai bilih goreng, bilih asap, bilih crispi, rendang bilih, pepes bilih dsb. Tingginya eksploitasi terhadap ikan bilih tersebut populasinya semakin menurun. Hal ini terlihat dari hasil produksi ikan perairan umum danau Singkarak yang terus menurun dari tahun ke tahun. 

"Seharusnya harga ikan bilih lebih mahal lagi dong, karena ikan satu-satu di dunia, apalagi habitatnya hampir punah," ulas Audy.

Saat ini harga Ikan bilih basah s.d Rp. 70.000/kg dan ikan bilih goreng berkisar Rp.250.000/kg. 

"Hadirnya kami disini sebagai bentuk kepedulian kita terhadap pelestarian ikan bilih. Jangan sampai ikan ini punah dan jangan sampai kita tidak berbuat apa-apa. Pelestarian ini tanggungjawab kita bersama,"  ucapnya.

Dari data terakhir jumlahnya sudah mencapai 382 unit. Konsep tata ruang dengan Zero bagan dan KJA adalah bagian dari penyelamatan ikan yang ada di Danau.

Selanjutnya Wagub Audy Joinaldy memberikan mengapresiasi PT Semen Padang yang telah sukses mengkonservasi ikan bilih Danau Singkarak sebagai upaya melestarikan ikan endemik danau Singkarak untuk ke dua kalinya.

Audy Joinaldy menilai konservasi ikan bilih yang dilakukan PT Semen Padang ini merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan. 

"Apalagi ikan bilih terancam punah akibat eksploitasi yang dilakukan para nelayan," tuturnya.

Ia berharap seluruh nelayan Danau Singkarak untuk tidak lagi mengeksploitasi ikan bilih secara masif. Karena, menurunnya populasi ikan bilih disebabkan oleh eksploitasi besar-besaran yang dilakukan para nelayan.

"Nagari Sumpur merupakan nagari yang paling peduli terhadap pelestarian ikan bilih di danau Singkarak. Jadi saya berharap pemerintah setempat dapat mendukung kebijakan ini," ungkapnya.

Bahkan, Pemerintahan Nagari Sumpur juga mengeluarkan Peraturan Nagari (Pernag) terkait ikan bilih. Dalam Pernag tersebut, para nelayan hanya dibolehkan menangkap ikan bilih secara tradisional, seperti menggunakan jala.

Rektor Bung Hatta Prof. Dr. Tafdil Husni, S.E, MBA. menyampaikan Universitas Bung Hatta (UBH) memiliki Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) dengan dua program studi, di antaranya Program Studi Budidaya Perairan, Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan dan Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Perairan, Pesisir, dan Kelautan.

"Fakultas perikanan ini telah kami khususkan  untuk meneliti ikan bilih yang ada di danau Singkarak," sebut Tafdil Husni.

Bahkan FPIK UBH memiliki SDM unggul yang telah berkiprah secara nasional dan internasional.

Seperti Prof. Dr. Ir. Hafrijal Syandri, M.S., berkat tangannya, pelestarian ikan bilih di habitat Danau Singkarak terus dilakukan dengan pemutakhiran kajian sesuai dengan kondisi alam yang selalu berubah-ubah.

Penelitian dan pembenihan ikan bilih ini telah dilakukan selama empat tahun secara EX-SITU di di area Kenekaragaman Hayati (Kehati) Semen Padang.

"Kita mengetahui ikan bilih satu-satunya spesies di dunia. Menurut Badan Indeks Spesis Hewan Dunia yaitu International Union for Conservation of Nature (IUCN) statusnya tahun 2020 menuju kepunahan," terangnya.

Maka dari itu UBH melakukan kerjasama dengan Semen Padang untuk melakukan pembenihan ikan bilih secara SITU di area Kehati Semen Padang.

Penerbaran benih ikan bilih ini telah dilakukan sebelumnya bersama Gubernur Sumbar pada bulan Maret sebanyak 4000 ekor dan sekarang kedua kalinya juga 4000 ekor bibit ikan bilih.

Menurutnya, kalau 1500 ekor ikan bilih disebarkan didalamnya kemungkinan ada 800 betina, maka masing-masing betina akan memiliki 8000 telur.

"Coba kita kalikan saja diperkirakan ada 4 juta ekor bilih akan berkembang biak," ucapnya.

Prof. Tafdil Husni berharap program ini bisa berjalan lancar dan kelestarian ikan bilih bisa terjaga dengan baik.

Sementara itu, Direktur Utama Semen Indonesia Grub (SIG) Donny Arsal juga mengatakan program ini sangat efektif, tentu didukung dengan pemerintah, terutama masyarakat setempat. 

"Seperti pembatasan penggunaan bagan, menggunakan sentrum, bom, menagkap ikan dengan jaring yang sangat rapat. Ini harus dilakukan secara bersamaan antara pemerintah dengan masyarakat dengan masif dan aktif," jelasnya.

Pelestarian ikan bilih sangatlah penting, perlu ketegasan dari semua pihak. Pengelolaan Danau Singkarak haruslah mempertahankan keberlanjutan lingkungan, serta pelestarian dan pemulihan fungsi danau berdasarkan prinsip keseimbangan ekosistem dan daya dukung lingkungan.

Kemudian, pemerintah harus juga menetapkan lokasi-lokasi tempat pengembangan ikan bilih yang harus di jaga bersama masyarakat. Selain itu juga harus dibuatkan zonasi-zonasi pemanfaatan danau, kawasan tangkapan terbatas, agar populasi ikan dapat meningkat.

"Tujuannya, agar generasi yang akan datang tetap bisa menikmati kelezatan dan manfaat ekonomi dari keberadaan Ikan Bilih, sebagai salah satu jenis ikan yang lezat dan enak dinikmati," ujarnya.

Sementara itu, salah satu tokoh masyarakat yang sekaligus ketua Nelayan Sumpur Fernando Sutan Sati yang telah ikut serta berkontribusi dalam melestarikan ikan bilih melalui konservasi.

Fernando melaporkan bahwa banyak kegiatan dari masyarakat yang melakukan bagan di salingka danau Singkarak kini sudah sangat mengkhawatirkan, sehingga bisa membahayakan ekosistem di perairan.

"Bahkan ada juga yang menggunakan racun ikan dan menggunakan jaring rapat, masih ada kita dapatkan disini," sebutnya.

Menurut dia, penggunaan bom dan racun ikan akan mematikan ikan tangkapan dan merusak mahkluk hidup di perairan secara luas, menyebar polutan dan racun serta bisa membahayakan manusia.

"Kami telah melakukan beberapa kali tindakan terhadap warga yang melakukan pengerusakan ekosistem dari ikan bilih ini, mulai dari teguran sampai mengusir dari Nagari Sumpur," terangnya.

Kemudian ia berharap kepada pemerintah Sumbar untuk bisa memberikan penerangan di muara Sumpur, agar ikan bilih tidak mendekat lagi ke bagan bagan tersebut.

"Tanpa lampu ikan bilih tidak mendekat ke bagan, jadi perlu penerangan dan batu grip, agar ikan bilih meralih ke muara," tambahnya. (nov)

Wagub Sumbar : Ikan Bilih Satu Satunya di Dunia yang Hampir Punah, Ayo Selamatkan Kelestariannya.

Saturday, July 30, 2022 : 6:16:00 PM
Wagub Sumbar Audy Joinaldy melepas benih ikan bilih sebanyak 4000 ekor di area konservasi ikan bilih di Nagari Sumpur Kabupaten Tanah Datar. (foto : nov)

TANAH DATAR, murainews.com -- Nagari Sumpur di Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat merupakan Desa Istimewa yang masuk 50 besar anugrah desa wisata Indonesia 2021 yang diadakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

"Suatu kebanggaan bagi Sumbar, dari 34 Provinsi dan 1.800 desa wisata di Indonesia yang mendaftar melalui situs Jadesta, Nagari Sumpu masuk dalam 50 besar," kata Audy Joinaldy.

Hal ini disampaikan Wakil Gubernur Sumatera Barat Audy Joinaldy saat meresmikan area konservasi ikan bilih dan penebaran benih ikan bilih ke habitat aslinya (IN-SITU) di Nagari Sumpur Kabupaten Tanah Datar, Sabtu (30/7/2022).

Sebanyak 4000 benih ikan bilih dilepas oleh Wagub Audy Joinaldy dan berharap menambah populasi ikan bilih di Danau Singkarak dan bisa membantu perekonomian warga.

"Nagari Sumpur memang luar biasa yang merupakan Desa yang istimewa banyak yang bisa ditonjolkan di sini diantaranya atraksi tari, Silek Aia, manjalo ikan dan makan bajamba di homestay rumah gadang yang bersih, nyaman dan sejuk," sebutnya.

Disamping itu, Nagari Sumpur memiliki Danau Singkarak yang indah terdapat jenis ikan endemik, satu satunya di danau yaitu Ikan Bilih (Mystacoleuseus padangensis).  

Danau Singkarak saat ini merupakan salah satu Danau Prioritas Nasional yang perlu diselamatkan berdasarkan Perpres 60 Tahun 2021. 

"Kenapa diselamatkan, karena Danau Singkarak memilik ikan bilih satu satunya di dunia yang hampir punah keberadaannya," ucapnya.

Ikan Bilih menjadi icon danau Singkarak yang dikenal tidak hanya lokal bahkan mendunia. Sekitar 1200 nelayan menggantungkan hidup dari penangkap ikan di Danau Singkarak. 

Olahan Bilih sangat digemari oleh masyarakat mulai bilih goreng, bilih asap, bilih crispi, rendang bilih, pepes bilih dsb. Tingginya eksploitasi terhadap ikan bilih tersebut populasinya semakin menurun. Hal ini terlihat dari hasil produksi ikan perairan umum danau Singkarak yang terus menurun dari tahun ke tahun. 

"Seharusnya harga ikan bilih lebih mahal lagi dong, karena ikan satu-satu di dunia, apalagi habitatnya hampir punah," ulas Audy.

Saat ini harga Ikan bilih basah s.d Rp. 70.000/kg dan ikan bilih goreng berkisar Rp.250.000/kg. 

"Hadirnya kami disini sebagai bentuk kepedulian kita terhadap pelestarian ikan bilih. Jangan sampai ikan ini punah dan jangan sampai kita tidak berbuat apa-apa. Pelestarian ini tanggungjawab kita bersama,"  ucapnya.

Dari data terakhir jumlahnya sudah mencapai 382 unit. Konsep tata ruang dengan Zero bagan dan KJA adalah bagian dari penyelamatan ikan yang ada di Danau.

Selanjutnya Wagub Audy Joinaldy memberikan mengapresiasi PT Semen Padang yang telah sukses mengkonservasi ikan bilih Danau Singkarak sebagai upaya melestarikan ikan endemik danau Singkarak untuk ke dua kalinya.

Audy Joinaldy menilai konservasi ikan bilih yang dilakukan PT Semen Padang ini merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan. 

"Apalagi ikan bilih terancam punah akibat eksploitasi yang dilakukan para nelayan," tuturnya.

Ia berharap seluruh nelayan Danau Singkarak untuk tidak lagi mengeksploitasi ikan bilih secara masif. Karena, menurunnya populasi ikan bilih disebabkan oleh eksploitasi besar-besaran yang dilakukan para nelayan.

"Nagari Sumpur merupakan nagari yang paling peduli terhadap pelestarian ikan bilih di danau Singkarak. Jadi saya berharap pemerintah setempat dapat mendukung kebijakan ini," ungkapnya.

Bahkan, Pemerintahan Nagari Sumpur juga mengeluarkan Peraturan Nagari (Pernag) terkait ikan bilih. Dalam Pernag tersebut, para nelayan hanya dibolehkan menangkap ikan bilih secara tradisional, seperti menggunakan jala.

Rektor Bung Hatta Prof. Dr. Tafdil Husni, S.E, MBA. menyampaikan Universitas Bung Hatta (UBH) memiliki Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) dengan dua program studi, di antaranya Program Studi Budidaya Perairan, Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan dan Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Perairan, Pesisir, dan Kelautan.

"Fakultas perikanan ini telah kami khususkan  untuk meneliti ikan bilih yang ada di danau Singkarak," sebut Tafdil Husni.

Bahkan FPIK UBH memiliki SDM unggul yang telah berkiprah secara nasional dan internasional.

Seperti Prof. Dr. Ir. Hafrijal Syandri, M.S., berkat tangannya, pelestarian ikan bilih di habitat Danau Singkarak terus dilakukan dengan pemutakhiran kajian sesuai dengan kondisi alam yang selalu berubah-ubah.

Penelitian dan pembenihan ikan bilih ini telah dilakukan selama empat tahun secara EX-SITU di di area Kenekaragaman Hayati (Kehati) Semen Padang.

"Kita mengetahui ikan bilih satu-satunya spesies di dunia. Menurut Badan Indeks Spesis Hewan Dunia yaitu International Union for Conservation of Nature (IUCN) statusnya tahun 2020 menuju kepunahan," terangnya.

Maka dari itu UBH melakukan kerjasama dengan Semen Padang untuk melakukan pembenihan ikan bilih secara SITU di area Kehati Semen Padang.

Penerbaran benih ikan bilih ini telah dilakukan sebelumnya bersama Gubernur Sumbar pada bulan Maret sebanyak 4000 ekor dan sekarang kedua kalinya juga 4000 ekor bibit ikan bilih.

Menurutnya, kalau 1500 ekor ikan bilih disebarkan didalamnya kemungkinan ada 800 betina, maka masing-masing betina akan memiliki 8000 telur.

"Coba kita kalikan saja diperkirakan ada 4 juta ekor bilih akan berkembang biak," ucapnya.

Prof. Tafdil Husni berharap program ini bisa berjalan lancar dan kelestarian ikan bilih bisa terjaga dengan baik.

Sementara itu, Direktur Utama Semen Indonesia Grub (SIG) Donny Arsal juga mengatakan program ini sangat efektif, tentu didukung dengan pemerintah, terutama masyarakat setempat. 

"Seperti pembatasan penggunaan bagan, menggunakan sentrum, bom, menagkap ikan dengan jaring yang sangat rapat. Ini harus dilakukan secara bersamaan antara pemerintah dengan masyarakat dengan masif dan aktif," jelasnya.

Pelestarian ikan bilih sangatlah penting, perlu ketegasan dari semua pihak. Pengelolaan Danau Singkarak haruslah mempertahankan keberlanjutan lingkungan, serta pelestarian dan pemulihan fungsi danau berdasarkan prinsip keseimbangan ekosistem dan daya dukung lingkungan.

Kemudian, pemerintah harus juga menetapkan lokasi-lokasi tempat pengembangan ikan bilih yang harus di jaga bersama masyarakat. Selain itu juga harus dibuatkan zonasi-zonasi pemanfaatan danau, kawasan tangkapan terbatas, agar populasi ikan dapat meningkat.

"Tujuannya, agar generasi yang akan datang tetap bisa menikmati kelezatan dan manfaat ekonomi dari keberadaan Ikan Bilih, sebagai salah satu jenis ikan yang lezat dan enak dinikmati," ujarnya.

Sementara itu, salah satu tokoh masyarakat yang sekaligus ketua Nelayan Sumpur Fernando Sutan Sati yang telah ikut serta berkontribusi dalam melestarikan ikan bilih melalui konservasi.

Fernando melaporkan bahwa banyak kegiatan dari masyarakat yang melakukan bagan di salingka danau Singkarak kini sudah sangat mengkhawatirkan, sehingga bisa membahayakan ekosistem di perairan.

"Bahkan ada juga yang menggunakan racun ikan dan menggunakan jaring rapat, masih ada kita dapatkan disini," sebutnya.

Menurut dia, penggunaan bom dan racun ikan akan mematikan ikan tangkapan dan merusak mahkluk hidup di perairan secara luas, menyebar polutan dan racun serta bisa membahayakan manusia.

"Kami telah melakukan beberapa kali tindakan terhadap warga yang melakukan pengerusakan ekosistem dari ikan bilih ini, mulai dari teguran sampai mengusir dari Nagari Sumpur," terangnya.

Kemudian ia berharap kepada pemerintah Sumbar untuk bisa memberikan penerangan di muara Sumpur, agar ikan bilih tidak mendekat lagi ke bagan bagan tersebut.

"Tanpa lampu ikan bilih tidak mendekat ke bagan, jadi perlu penerangan dan batu grip, agar ikan bilih meralih ke muara," tambahnya. (nov)