Termasuk Daerah "Supermarket" Bencana, Nasrul Abit Inginkan Kesiapsiagaan Lewat Kampung Siaga Bencana - MuraiNews | Informasi Dari Kita untuk Kita
arrow_upward
settings_brightness



PADANG, murainews.com -- Provinsi Sumatera Barat dikenal dengan Supermarket Bencana. Ancaman bencana selalui menghantui masyarakat mulai dari gempa bumi, tsunami, banjir, longsor/galodo, angin ribut, gelombang pasang, sampai bencana kebakaran. Semuanya ada di Sumbar.


Untuk itu, mitigasi bencana atau serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana perlu dikedepankan.


Hal ini disampaikan Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit Datuak Malintang Panai, saat memberikan arahan pada peserta Bimbingan Teknis Pengurus Kampung Siaga Bencana (KSB). Program perlindungan dan jaminan sosial serta kegiatan Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam (PSKBA), oleh Dinas Sosial Provinsi Sumatera Barat Tahun 2020 di Hotel Kawana Padang, Kamis, (13/8/2020).


Selain pemerintah, masyarakat menjadi pihak pertama yang langsung berhadapan dengan ancaman bencana dan penanggulangan bencana merupakan peranserta semua pihak. 


Makanya masyarakat pelaku penting untuk mengurangi kerentanan dengan meningkatkan kemampuan diri dalam menangani bencana. Untuk mengurangi resiko bencana berbasis masyarakat maka dibentuknya Tim Kampung Siaga Bencana (KSB).


"Banyaknya kerusakan yang terjadi diatas muka bumi. Akibatnya, muncul perubahan iklim global yang memicu meningkatnya frekuensi bencana alam," kata Nasrul Abit.


Untuk itu menurut Nasrul Abit, mitigasi bencana patut dikedepankan dengan mengutamakan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi saat ini, sehingga perlu dilakukan program yang dapat menyiapkan masyarakat melakukan penyelenggaraan  penanggulangan bencana secara mandiri.


"Perubahan paradigma Penanggulangan Bencana (PB) dari penanganan kedaruratan yang berorientasi pada penanggulangan sebagai respon akibat terjadinya bencana dan PB dilakukan sejak dini mulai dari kesiapsiagaan sampai tahap pemulihan sosial, maka partisipasi masyarakat dalam PB mutlak diperlukan," ungkap Nasrul Abit.


Selanjutnya Wagub Nasrul Abit mengatakan wujud dari partisipasi masyarakat dari Penanggulangan Bencana (PB) adalah kesiapsiagaan mereka terhadap segala sesuatu yang terkait dengan bencana.


"Untuk menciptakan kondisi tersebut, masyarakat perlu dibekali serangkaian pengetahuan dan keterampilan yang berhubungan dengan PB berbasis masyarakat. Salah satu kegiatannya adalah melalui pembentukan wadah yaitu Tim Kapung Siaga Bencana," ujarnya.


"Pembentukan KSB jangan hanya seremonial tapi harus ada tindak lanjut dan prakteknya. Harus ada pelatihan yang intensif dari setiap organisasi masyarakat sehingga masyarakat lebih siap menghadapi bencana yang tak dapat diduga datangnya," imbuhnya.


Sementara itu Kadis Sosial Sumbar Jumaidi juga mengatakan KSB dibentuk dengan maksud untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman dan resiko bencana dengan cara menyelenggarakan kegiatan pencegahan dan penanggulangan bencana berbasis masyarakat.


"Melalui pemanfaatan potensi sumber daya manusia yang ada pada lingkungan setempat sesuai dengan pasal 2 Permensos Nomor 128 Tahun 2012 tentang KSB", kata Jumaidi 


Selanjutnya KBS tersebut dibentuk bertujuan memberikan pemahaman serta kesadaran masyarakat tentang bahaya dan resiko bencana. Membentuk jejaring siaga bencana  berbasis masyrakat dan memperkuat interaksi sosial anggota masyarakat. 


Mengorganisasi masyarakat agar terlatih dengan siaga bencana dan nomenjamin terlaksananya kesiapsiagaan bencana berbasis masyrakat yang berkesinambungan  agar dapat mengoptimalkan potensi sumber daya untuk PB," terang Jumaidi. (nov)

Termasuk Daerah "Supermarket" Bencana, Nasrul Abit Inginkan Kesiapsiagaan Lewat Kampung Siaga Bencana

Friday, August 14, 2020 : 12:24:00 PM



PADANG, murainews.com -- Provinsi Sumatera Barat dikenal dengan Supermarket Bencana. Ancaman bencana selalui menghantui masyarakat mulai dari gempa bumi, tsunami, banjir, longsor/galodo, angin ribut, gelombang pasang, sampai bencana kebakaran. Semuanya ada di Sumbar.


Untuk itu, mitigasi bencana atau serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana perlu dikedepankan.


Hal ini disampaikan Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit Datuak Malintang Panai, saat memberikan arahan pada peserta Bimbingan Teknis Pengurus Kampung Siaga Bencana (KSB). Program perlindungan dan jaminan sosial serta kegiatan Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam (PSKBA), oleh Dinas Sosial Provinsi Sumatera Barat Tahun 2020 di Hotel Kawana Padang, Kamis, (13/8/2020).


Selain pemerintah, masyarakat menjadi pihak pertama yang langsung berhadapan dengan ancaman bencana dan penanggulangan bencana merupakan peranserta semua pihak. 


Makanya masyarakat pelaku penting untuk mengurangi kerentanan dengan meningkatkan kemampuan diri dalam menangani bencana. Untuk mengurangi resiko bencana berbasis masyarakat maka dibentuknya Tim Kampung Siaga Bencana (KSB).


"Banyaknya kerusakan yang terjadi diatas muka bumi. Akibatnya, muncul perubahan iklim global yang memicu meningkatnya frekuensi bencana alam," kata Nasrul Abit.


Untuk itu menurut Nasrul Abit, mitigasi bencana patut dikedepankan dengan mengutamakan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi saat ini, sehingga perlu dilakukan program yang dapat menyiapkan masyarakat melakukan penyelenggaraan  penanggulangan bencana secara mandiri.


"Perubahan paradigma Penanggulangan Bencana (PB) dari penanganan kedaruratan yang berorientasi pada penanggulangan sebagai respon akibat terjadinya bencana dan PB dilakukan sejak dini mulai dari kesiapsiagaan sampai tahap pemulihan sosial, maka partisipasi masyarakat dalam PB mutlak diperlukan," ungkap Nasrul Abit.


Selanjutnya Wagub Nasrul Abit mengatakan wujud dari partisipasi masyarakat dari Penanggulangan Bencana (PB) adalah kesiapsiagaan mereka terhadap segala sesuatu yang terkait dengan bencana.


"Untuk menciptakan kondisi tersebut, masyarakat perlu dibekali serangkaian pengetahuan dan keterampilan yang berhubungan dengan PB berbasis masyarakat. Salah satu kegiatannya adalah melalui pembentukan wadah yaitu Tim Kapung Siaga Bencana," ujarnya.


"Pembentukan KSB jangan hanya seremonial tapi harus ada tindak lanjut dan prakteknya. Harus ada pelatihan yang intensif dari setiap organisasi masyarakat sehingga masyarakat lebih siap menghadapi bencana yang tak dapat diduga datangnya," imbuhnya.


Sementara itu Kadis Sosial Sumbar Jumaidi juga mengatakan KSB dibentuk dengan maksud untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman dan resiko bencana dengan cara menyelenggarakan kegiatan pencegahan dan penanggulangan bencana berbasis masyarakat.


"Melalui pemanfaatan potensi sumber daya manusia yang ada pada lingkungan setempat sesuai dengan pasal 2 Permensos Nomor 128 Tahun 2012 tentang KSB", kata Jumaidi 


Selanjutnya KBS tersebut dibentuk bertujuan memberikan pemahaman serta kesadaran masyarakat tentang bahaya dan resiko bencana. Membentuk jejaring siaga bencana  berbasis masyrakat dan memperkuat interaksi sosial anggota masyarakat. 


Mengorganisasi masyarakat agar terlatih dengan siaga bencana dan nomenjamin terlaksananya kesiapsiagaan bencana berbasis masyrakat yang berkesinambungan  agar dapat mengoptimalkan potensi sumber daya untuk PB," terang Jumaidi. (nov)