Wagub Sumbar Siapkan Program Pengembangan Ekonomi Daerah Tertinggal Akibat Covid-19 - MuraiNews | Informasi Dari Kita untuk Kita
arrow_upward
settings_brightness
(foto:nov)


PADANG, murainews.com -- Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) merupakan salah satu provinsi yang terdampak virus Corona, untuk itu perlu dilakukan menyiapkan dan mengkaji program pemulihan ekonomi pascapandemi Corona Virus Disease (COVID-19).

"Perlu dilakukan kajian bersama OPD untuk merumuskan program stimulus ekonomi dimasa-masa rumit sekarang ini," kata Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit, saat membuka
Rapat sinkronisasi program dan kegiatan pengembangan ekonomi Sumatera Barat Jum'at (17/7/2020) di Aula Kantor Gubernur.

Wagub Sumbar mengatakan, berdasarkan data Bappenas akibat pandemi tingkat pengangguran di Sumbar mencapai 7,8 persen sampai dengan 8,5 persen, untuk tingkat penggangguran 6,25 persen dan untuk tingkat kemiskinan tahun 2020 dari 9,2 persen menjadi 10,2 persen. Sementara untuk tingkat kemiskinan Sumbar 5,2 persen .

"Untuk itu mau tidak mau, suka tidak suka kita harus masuk kedalam sektor ekonomi, namun kita tetap membangun infrastruktur tapi yang paling penting untuk kedepannya adalah  kesehatan dan kemudian ekonomi," ujar Nasrul Abit.

Selanjutnya Wagub Sumbar Nasrul Abit menyampaikan, banyak UMKM berdampak langsung akibat Covid-19. Ini perlu ditindak lanjuti oleh Pemprov Sumbar, apalagi Presiden RI telah mengumumkan, UMKM akan dibantu Rp2,4 juta perorang. Dipermudah izin agar masyarakat yang menerima bantuan Rp2,4 juta terbantu.

Sebanyak Rp124 Triliun pemulihan ekonomi disektor UMKM melalui Kementerian Koperasi, ini akan bisa mengurangi beban APBD Sumatera Barat.

"Harapan kita jika masyarakat sudah mendapatkan bantuan 2,4 juta, mudah-mudahan bisa membantu ekonomi mereka," harapnya.

Nagari yang tertinggal di Sumbar ada 9 (sembilan) yang telah dikunjunginya. Kebutuhan di daerah tertinggal adalah peningkatan ekonomi, infrastruktur, listrik dan jaringan komunikasi. Di daerah tertinggal juga ada pendidikan, harus belajar menggunakan sisten daring (belajar online). Tercatat ada 38 SMA dan SMK yang tidak ada jaringan komunikasi.

"Kita harus membenahi infrastruktur disegi komunikasi, harus segera dibantu. Kita sudah pernah meninjau daerah Muara Sungai Lolo Kabupaten Pasaman, mata pencaharian masyarakat disana karet semua. Sudah bertahun tahun mereka tidak pernah sejahtera, saya lihat tertawanya sangat dipaksakan( tertawa kesedihan)," ucap Nasrul Abit.

Menurut Nasrul Abit, penghasilan mereka hanya Rp500 ribu, dari penghasilan karet. Rp500 ribu untuk memberi makan anak anggota keluarga 5 sampai 7 tidak layak. Menurut informasi dari statistik ukuran perkepala 545 ribu untuk hidup tidak layak. Artinya orang Sungai Lolo harus dapat bantuan.

Di Sungai Lolo tidak ada sawah, jadi kehidupan masyarakat disana beli beras. Ongkos disana 1000/1km dari Rao. Wagub Sumbar berharap pihak pemprov bisa duduk bersama dengan pemerintah daerah untuk lakukan kerjasama antara provinsi dan kabupaten kota.

"Saya ingin daerah tertinggal tersebut dapat diberikan bantuan berupa hewan ternak seperti sapi dan kambing, tapi saya minta dihitung secara ekonomi. kalau target kita dua  tahun mereka sejahtera berapa ekor kambing yang harus kita berikan kepada mereka," tukasnya.

Pembangunan infrastruktur untuk pelayanan dasar ditujukan untuk pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia. Pelayanan dasar yang akan dibangun mencakup hunian layak, peningkatan akses ketenagalistrikan, layanan telekomunikasi untuk fasilitas umum.

Akhir sambuta Wagub Sumbar minta program dan kegiatan percepatan pembangunan di daerah tertinggal berupa pengembangan potensi ekonomi lokal serta informasi dan telekomunikasi (infotel) dan infrastruktur jalan harus nenjadi perioritas utama untuk kebangkitan perekonomian masyarakat. (nov)

Wagub Sumbar Siapkan Program Pengembangan Ekonomi Daerah Tertinggal Akibat Covid-19

Friday, July 17, 2020 : 3:06:00 PM
(foto:nov)


PADANG, murainews.com -- Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) merupakan salah satu provinsi yang terdampak virus Corona, untuk itu perlu dilakukan menyiapkan dan mengkaji program pemulihan ekonomi pascapandemi Corona Virus Disease (COVID-19).

"Perlu dilakukan kajian bersama OPD untuk merumuskan program stimulus ekonomi dimasa-masa rumit sekarang ini," kata Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit, saat membuka
Rapat sinkronisasi program dan kegiatan pengembangan ekonomi Sumatera Barat Jum'at (17/7/2020) di Aula Kantor Gubernur.

Wagub Sumbar mengatakan, berdasarkan data Bappenas akibat pandemi tingkat pengangguran di Sumbar mencapai 7,8 persen sampai dengan 8,5 persen, untuk tingkat penggangguran 6,25 persen dan untuk tingkat kemiskinan tahun 2020 dari 9,2 persen menjadi 10,2 persen. Sementara untuk tingkat kemiskinan Sumbar 5,2 persen .

"Untuk itu mau tidak mau, suka tidak suka kita harus masuk kedalam sektor ekonomi, namun kita tetap membangun infrastruktur tapi yang paling penting untuk kedepannya adalah  kesehatan dan kemudian ekonomi," ujar Nasrul Abit.

Selanjutnya Wagub Sumbar Nasrul Abit menyampaikan, banyak UMKM berdampak langsung akibat Covid-19. Ini perlu ditindak lanjuti oleh Pemprov Sumbar, apalagi Presiden RI telah mengumumkan, UMKM akan dibantu Rp2,4 juta perorang. Dipermudah izin agar masyarakat yang menerima bantuan Rp2,4 juta terbantu.

Sebanyak Rp124 Triliun pemulihan ekonomi disektor UMKM melalui Kementerian Koperasi, ini akan bisa mengurangi beban APBD Sumatera Barat.

"Harapan kita jika masyarakat sudah mendapatkan bantuan 2,4 juta, mudah-mudahan bisa membantu ekonomi mereka," harapnya.

Nagari yang tertinggal di Sumbar ada 9 (sembilan) yang telah dikunjunginya. Kebutuhan di daerah tertinggal adalah peningkatan ekonomi, infrastruktur, listrik dan jaringan komunikasi. Di daerah tertinggal juga ada pendidikan, harus belajar menggunakan sisten daring (belajar online). Tercatat ada 38 SMA dan SMK yang tidak ada jaringan komunikasi.

"Kita harus membenahi infrastruktur disegi komunikasi, harus segera dibantu. Kita sudah pernah meninjau daerah Muara Sungai Lolo Kabupaten Pasaman, mata pencaharian masyarakat disana karet semua. Sudah bertahun tahun mereka tidak pernah sejahtera, saya lihat tertawanya sangat dipaksakan( tertawa kesedihan)," ucap Nasrul Abit.

Menurut Nasrul Abit, penghasilan mereka hanya Rp500 ribu, dari penghasilan karet. Rp500 ribu untuk memberi makan anak anggota keluarga 5 sampai 7 tidak layak. Menurut informasi dari statistik ukuran perkepala 545 ribu untuk hidup tidak layak. Artinya orang Sungai Lolo harus dapat bantuan.

Di Sungai Lolo tidak ada sawah, jadi kehidupan masyarakat disana beli beras. Ongkos disana 1000/1km dari Rao. Wagub Sumbar berharap pihak pemprov bisa duduk bersama dengan pemerintah daerah untuk lakukan kerjasama antara provinsi dan kabupaten kota.

"Saya ingin daerah tertinggal tersebut dapat diberikan bantuan berupa hewan ternak seperti sapi dan kambing, tapi saya minta dihitung secara ekonomi. kalau target kita dua  tahun mereka sejahtera berapa ekor kambing yang harus kita berikan kepada mereka," tukasnya.

Pembangunan infrastruktur untuk pelayanan dasar ditujukan untuk pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia. Pelayanan dasar yang akan dibangun mencakup hunian layak, peningkatan akses ketenagalistrikan, layanan telekomunikasi untuk fasilitas umum.

Akhir sambuta Wagub Sumbar minta program dan kegiatan percepatan pembangunan di daerah tertinggal berupa pengembangan potensi ekonomi lokal serta informasi dan telekomunikasi (infotel) dan infrastruktur jalan harus nenjadi perioritas utama untuk kebangkitan perekonomian masyarakat. (nov)