Harapan Pendidikan Pada Pandemi Covid-19 - MuraiNews | Informasi Dari Kita untuk Kita
arrow_upward
settings_brightness
(Ilustrasi)


Penulis : Novear Amin Ario

murainews.com -- Sudah hampir empat bulan bangsa ini diserang oleh wabah coronavirus disease 2019 (Covid-19) dimana masyarakat masyarakat diimbau untuk mengisolasi diri, tetap berada di dalam rumah dan berkegiatan di dalam rumah. Termasuk masalah pendidikan. Belajar harus dilakukan menggunakan internet (daring), agar terhindar dari paparan Virus Corona.

Lalu bagaimana orang tua menyikapi pola pembelajaran melalui daring ini selama wabah?

Saat menghadapi masa pandemi Covid-19, hampir semua sektor terhenti, masyarakat tidak bisa berbuat banyak untuk memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangganya.

Ketika menjadi tanggung jawab orangtua dipertanyakan, antara kewajiban mendidik anaknya dengan kewajiban melaksanakan pekerjaan. Tidak semua orangtua bisa menjadi guru dirumah mendidik anaknya seperti disekolah. Dan tidak semua orangtua memiliki handphone seluler (HP) pintar untuk pendidikan daring.

Permasalahan ini sangat dramatis sekali, sampai-sampai para orangtua harus meminjam uang untuk membeli HP agar anak-anaknya tidak ketinggalan dalam pendidikan di sekolah, belum lagi membeli pulsa untuk terus bisa aktif, mendadak guru memberikan tugas.

Menurut pantauan penulis sejumlah studi kecil di Kota Padang, Sumatera Barat, salah satunya kehidupan keluarga Jhoni (45) bekerja serabut di daerah Air Tawar Barat yang memiliki empat orang anak yang semuanya sekolah.

Sebelumnya Jhoni hanya memiliki seluler biasa, karena semua anak harus belajar melalui daring, terpaksa dia harus meminjam uang ke tetangganya untuk membeli HP pintar, agar anak-anaknya bisa belajar melalui internet.

"Walaupun HPnya bekas, yang penting anak-anak bisa mengikuti pelajaran dari gurunya," ucap Jhoni.

Namun permasalahannya baru timbul, ketika setiap anak mendapatkan tugas secara bersamaan dari gurunya. Tentunya ini membuat anaknya kesulitan. Apalagi tugas tersebut harus selesai diwaktu bersamaan.

Terlihat anak perempuannya Aulia (13) menuju warnet membawa buku cetak dan beberapa kertas tugas dari sekolahnya (SMP) dengan membawa uang satu lembar Rp 10ribu. Sesampai di sana dia langsung bertanya sama operator warnet, kalau ngetik draft ini dan ngeprint, berapa harganya?

Operator warnet menjawab, "semuanya sekitar 20 ribuan dek, sudah termasuk biaya ngeprint".

Begitu tau biayanya 20 ribuan, Aulia langsung terdiam dan melongo. Dia tak menyangka kalau biaya pengetikan dan ngeprint sampai 20 ribu, sementara uang yang ada ditangannya hanya 10 ribu.

Dia bingung, ngga tau harus bagaimana, jelas terlihat diwajahnya. Sementara tugas dari sekolah harus dikerjakan. Dia hanya menunduk dan berdiam diri di warnet itu.

Tanpa pikir panjang saya hampiri anak perempuan itu. Saya minta operator warnet tersebut untuk mengerjakan semua apa yang diminta oleh Aulia. Karena saya mengenal Aulia. Anak cerdas, selalu mendapat rangking di sekolahnya.

Dia sangat senang sekali dan mengucapkan terima kasih. Dia memceritakan bagaimana susahnya belajar di rumah. Hanya ada satu HP milik ayahnya, sementara yang harus belajar menggunakan HP ada empat orang. (Dia dan tiga adiknya).

Kalau ayahnya bekerja, tentu HP dibawanya. Belum paket internet yang harus dibeli, seharga Rp 15 ribu tiap hari.

Berapa banyak anak yang mengalami hal seperti ini ..? Di saat orang tuanya kesulitan menutupi biaya hidup, ditambah lagi beban pulsa paket, beban ngetik tugas, ngeprint tugas..?

Berapa biaya harus dikeluarkan oleh wali murid ditengah Pandemi Covid-19 ini? Tidak semua orangtua yang mampu biaya tambahan pendidikan daring ini.

Ini harus menjadi perhatian bagi guru-guru di sekolah. Dinas Pendidikan Sumbar harus memberikan solusi terhadap permasalahan ini.

Ditambah masih adanya guru yang belum menguasai Ilmu Teknologi (IT), seperti menggunakan komputer atau mengajar melalui daring (internet). Tentu perlu memberikan pembekalan terhadap SDM dalam penggunaan IT, agar lebih siap untuk bekal Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Belum lagi peserta didik dapat belajar jarak jauh harus memiliki fasilitas, seperti HP yang harus digunakan.

Bagaimana dengan anak-anak yang sekolah di daerah yang tidak memiliki jaringan internet, apa ada solusinya terhadap pendidikan mereka?

Selamatkan anak kita dari kebodohan, semoga Hari Anak Nasional (HAN) 2020 menjadi momen untuk kembali melakukan refleksi pemenuhan hak anak, terutama pendidikan di tengah masa pandemi virus corona seperti saat ini.

Seharusnya orangtua dan guru punya sinergi yang bagus. Dari tingkat sekolah seharusnya ada penyesuaian kurikulum dan juga pemahaman yang utuh tentang kondisi siswa, sehingga semua anak mendapatkan hak pendidikan yang layak.

Semoga  Allah SWT segera mengangkat wabah virus corona ini sehingga mereka bisa kembali ke bangku sekolah. Belajar seperti biasa, bermain bersama teman-teman di sekolah. (nov)

SELAMAT HARI ANAK NASIONAL
Kamis, 23 Juli 2020

Harapan Pendidikan Pada Pandemi Covid-19

Saturday, July 25, 2020 : 1:09:00 AM
(Ilustrasi)


Penulis : Novear Amin Ario

murainews.com -- Sudah hampir empat bulan bangsa ini diserang oleh wabah coronavirus disease 2019 (Covid-19) dimana masyarakat masyarakat diimbau untuk mengisolasi diri, tetap berada di dalam rumah dan berkegiatan di dalam rumah. Termasuk masalah pendidikan. Belajar harus dilakukan menggunakan internet (daring), agar terhindar dari paparan Virus Corona.

Lalu bagaimana orang tua menyikapi pola pembelajaran melalui daring ini selama wabah?

Saat menghadapi masa pandemi Covid-19, hampir semua sektor terhenti, masyarakat tidak bisa berbuat banyak untuk memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangganya.

Ketika menjadi tanggung jawab orangtua dipertanyakan, antara kewajiban mendidik anaknya dengan kewajiban melaksanakan pekerjaan. Tidak semua orangtua bisa menjadi guru dirumah mendidik anaknya seperti disekolah. Dan tidak semua orangtua memiliki handphone seluler (HP) pintar untuk pendidikan daring.

Permasalahan ini sangat dramatis sekali, sampai-sampai para orangtua harus meminjam uang untuk membeli HP agar anak-anaknya tidak ketinggalan dalam pendidikan di sekolah, belum lagi membeli pulsa untuk terus bisa aktif, mendadak guru memberikan tugas.

Menurut pantauan penulis sejumlah studi kecil di Kota Padang, Sumatera Barat, salah satunya kehidupan keluarga Jhoni (45) bekerja serabut di daerah Air Tawar Barat yang memiliki empat orang anak yang semuanya sekolah.

Sebelumnya Jhoni hanya memiliki seluler biasa, karena semua anak harus belajar melalui daring, terpaksa dia harus meminjam uang ke tetangganya untuk membeli HP pintar, agar anak-anaknya bisa belajar melalui internet.

"Walaupun HPnya bekas, yang penting anak-anak bisa mengikuti pelajaran dari gurunya," ucap Jhoni.

Namun permasalahannya baru timbul, ketika setiap anak mendapatkan tugas secara bersamaan dari gurunya. Tentunya ini membuat anaknya kesulitan. Apalagi tugas tersebut harus selesai diwaktu bersamaan.

Terlihat anak perempuannya Aulia (13) menuju warnet membawa buku cetak dan beberapa kertas tugas dari sekolahnya (SMP) dengan membawa uang satu lembar Rp 10ribu. Sesampai di sana dia langsung bertanya sama operator warnet, kalau ngetik draft ini dan ngeprint, berapa harganya?

Operator warnet menjawab, "semuanya sekitar 20 ribuan dek, sudah termasuk biaya ngeprint".

Begitu tau biayanya 20 ribuan, Aulia langsung terdiam dan melongo. Dia tak menyangka kalau biaya pengetikan dan ngeprint sampai 20 ribu, sementara uang yang ada ditangannya hanya 10 ribu.

Dia bingung, ngga tau harus bagaimana, jelas terlihat diwajahnya. Sementara tugas dari sekolah harus dikerjakan. Dia hanya menunduk dan berdiam diri di warnet itu.

Tanpa pikir panjang saya hampiri anak perempuan itu. Saya minta operator warnet tersebut untuk mengerjakan semua apa yang diminta oleh Aulia. Karena saya mengenal Aulia. Anak cerdas, selalu mendapat rangking di sekolahnya.

Dia sangat senang sekali dan mengucapkan terima kasih. Dia memceritakan bagaimana susahnya belajar di rumah. Hanya ada satu HP milik ayahnya, sementara yang harus belajar menggunakan HP ada empat orang. (Dia dan tiga adiknya).

Kalau ayahnya bekerja, tentu HP dibawanya. Belum paket internet yang harus dibeli, seharga Rp 15 ribu tiap hari.

Berapa banyak anak yang mengalami hal seperti ini ..? Di saat orang tuanya kesulitan menutupi biaya hidup, ditambah lagi beban pulsa paket, beban ngetik tugas, ngeprint tugas..?

Berapa biaya harus dikeluarkan oleh wali murid ditengah Pandemi Covid-19 ini? Tidak semua orangtua yang mampu biaya tambahan pendidikan daring ini.

Ini harus menjadi perhatian bagi guru-guru di sekolah. Dinas Pendidikan Sumbar harus memberikan solusi terhadap permasalahan ini.

Ditambah masih adanya guru yang belum menguasai Ilmu Teknologi (IT), seperti menggunakan komputer atau mengajar melalui daring (internet). Tentu perlu memberikan pembekalan terhadap SDM dalam penggunaan IT, agar lebih siap untuk bekal Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Belum lagi peserta didik dapat belajar jarak jauh harus memiliki fasilitas, seperti HP yang harus digunakan.

Bagaimana dengan anak-anak yang sekolah di daerah yang tidak memiliki jaringan internet, apa ada solusinya terhadap pendidikan mereka?

Selamatkan anak kita dari kebodohan, semoga Hari Anak Nasional (HAN) 2020 menjadi momen untuk kembali melakukan refleksi pemenuhan hak anak, terutama pendidikan di tengah masa pandemi virus corona seperti saat ini.

Seharusnya orangtua dan guru punya sinergi yang bagus. Dari tingkat sekolah seharusnya ada penyesuaian kurikulum dan juga pemahaman yang utuh tentang kondisi siswa, sehingga semua anak mendapatkan hak pendidikan yang layak.

Semoga  Allah SWT segera mengangkat wabah virus corona ini sehingga mereka bisa kembali ke bangku sekolah. Belajar seperti biasa, bermain bersama teman-teman di sekolah. (nov)

SELAMAT HARI ANAK NASIONAL
Kamis, 23 Juli 2020