Wagub Sumbar : Beratnya Sumpah Datuak, berlandaskan Al Qur’an 30 just - MuraiNews | Informasi Dari Kita untuk Kita
arrow_upward
settings_brightness


Limapuluh Kota -- Wakil Gubernur Sumatera Barat Drs. H. Nasrul Abit Datuak Malintang Panai menghadiri acara Festival Budaya di Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Minggu (12/1/2020).

Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit dalam sambutannya mengingatkan betapa beratnya menjadi seorang Panghulu. Sumpah seorang Datuak dalam satu kaum atau suku, berlandaskan dikutuk Al Qur’an 30 just, "ka ateh indak ba pucuak, ka bawah indak baurek, ditangah-tangah digiriak kumbang".

Beratnya tanggungjawab dipundak seorang Penghulu Datuak, baik kepada Kemenakan dan kampung halamannya, menjadi beban amat berat.

"Tentunya Panghulu yang menerima Gelar Pusako agar dapat menjalankan amanahnya dan mampu menjalankan fungsi sebagai Panghulu, serta mampu membangkik batang tarandam, Saciok bak Ayam sadanciang bak basi," jelasnya.

Masyarakat Minangkabau memang sangat kental memegang adat sekaligus menjunjung tinggi syariat Islam. Ini dilatarbelakangi sebuah pepatah lama yang mengatakan "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Karenanya sosok Datuak sebagai pemangku adat adalah suatu keharusan.

Pemangku adat adalah orang yang mengayomi warga atau mengurusi adat istiadat di wilayah tugas masing-masing. Pemangku adat juga dapat menjadi hakim jika dalam suatu komunitas terjadi suatu pelanggaran adat. Tak heran, datuk juga dijadikan simbol hukum adat masyarakat masing-masing suku.


Ketentuan itu juga berlaku juga terhadap 48 Datuak dari Suku Piliang, Melayu, Pitopang dan Chaniago di Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatra Barat.

"Untuk itu kami mengajak para pemimpin atau tokoh adat yang ada disini dapat menjaga dan membimbing anak kemenakan serta membantu pemerintah dalam memajukan daerah,” ucap Datuak Malintang Panai.

Nasrul Abit Datuak Malintang Panai juga mengingatkan, agar pada perubahan globalisasi zaman milenial ini, agar menjaga dan mengarahkan anak kemenakan tidak terlibat pada perbuatan penyakit masyarakat, yaitu narkoba, maksiat dan seks bebas.

"Tugas datuak di Minangkabau sangat berat di tengah derasnya arus informasi dan teknologi saat ini, kita prihatin dengan pola pergaulan anak kemenakan kita yang terjadi sekarang ini," ujarnya.

Selain gaya hidup anak muda, narkoba juga turut menjadi momok perusak generasi bangsa yaitu maksiat perilaku menyimpang lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT).

"Ini menjadi tugas dan tanggungjawab kita bersama termasuk, tigo tungku sajarangan, ninik mamak, bundo kanduang dan pemuda, dengan menjauhkan diri anak kemenakan kita  dan sekaligus memberantasnya, agar terjaga kelestarian nilai-nilai budaya dan adat istiadat minangkabau," ujar Nasrul Abit. (nov)

Wagub Sumbar : Beratnya Sumpah Datuak, berlandaskan Al Qur’an 30 just

Sunday, January 12, 2020 : 8:13:00 PM


Limapuluh Kota -- Wakil Gubernur Sumatera Barat Drs. H. Nasrul Abit Datuak Malintang Panai menghadiri acara Festival Budaya di Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Minggu (12/1/2020).

Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit dalam sambutannya mengingatkan betapa beratnya menjadi seorang Panghulu. Sumpah seorang Datuak dalam satu kaum atau suku, berlandaskan dikutuk Al Qur’an 30 just, "ka ateh indak ba pucuak, ka bawah indak baurek, ditangah-tangah digiriak kumbang".

Beratnya tanggungjawab dipundak seorang Penghulu Datuak, baik kepada Kemenakan dan kampung halamannya, menjadi beban amat berat.

"Tentunya Panghulu yang menerima Gelar Pusako agar dapat menjalankan amanahnya dan mampu menjalankan fungsi sebagai Panghulu, serta mampu membangkik batang tarandam, Saciok bak Ayam sadanciang bak basi," jelasnya.

Masyarakat Minangkabau memang sangat kental memegang adat sekaligus menjunjung tinggi syariat Islam. Ini dilatarbelakangi sebuah pepatah lama yang mengatakan "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Karenanya sosok Datuak sebagai pemangku adat adalah suatu keharusan.

Pemangku adat adalah orang yang mengayomi warga atau mengurusi adat istiadat di wilayah tugas masing-masing. Pemangku adat juga dapat menjadi hakim jika dalam suatu komunitas terjadi suatu pelanggaran adat. Tak heran, datuk juga dijadikan simbol hukum adat masyarakat masing-masing suku.


Ketentuan itu juga berlaku juga terhadap 48 Datuak dari Suku Piliang, Melayu, Pitopang dan Chaniago di Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatra Barat.

"Untuk itu kami mengajak para pemimpin atau tokoh adat yang ada disini dapat menjaga dan membimbing anak kemenakan serta membantu pemerintah dalam memajukan daerah,” ucap Datuak Malintang Panai.

Nasrul Abit Datuak Malintang Panai juga mengingatkan, agar pada perubahan globalisasi zaman milenial ini, agar menjaga dan mengarahkan anak kemenakan tidak terlibat pada perbuatan penyakit masyarakat, yaitu narkoba, maksiat dan seks bebas.

"Tugas datuak di Minangkabau sangat berat di tengah derasnya arus informasi dan teknologi saat ini, kita prihatin dengan pola pergaulan anak kemenakan kita yang terjadi sekarang ini," ujarnya.

Selain gaya hidup anak muda, narkoba juga turut menjadi momok perusak generasi bangsa yaitu maksiat perilaku menyimpang lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT).

"Ini menjadi tugas dan tanggungjawab kita bersama termasuk, tigo tungku sajarangan, ninik mamak, bundo kanduang dan pemuda, dengan menjauhkan diri anak kemenakan kita  dan sekaligus memberantasnya, agar terjaga kelestarian nilai-nilai budaya dan adat istiadat minangkabau," ujar Nasrul Abit. (nov)