Kepala BNPB Kunjungi Korban Banjir Bandang Nagari Taram - MuraiNews | Informasi Dari Kita untuk Kita
arrow_upward
settings_brightness
Kunjungi Korban Banjir Bandang, Kepala BNPB Minta Masyarakat Sikapi Pepatah Minangkabau 'Alam Takambang Jadi Guru'




LIMAPULUH KOTA, murainews.com -- Hujan deras masih mengancam di Kabupaten Limapuluh Kota,  hingga saat ini banjir merendam sejumlah rumah di Nagari Taram Kecamatan Harau, Kabupaten Lima puluh kota, Sumatera Barat, Selasa (12/12/2019).

Letnan Jenderal TNI Doni Monardo Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) didampingi Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit dan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar Erman Rahman berserta rombongan, meninjau langsung lokasi tempat para pengungsian.

Rombongan Kepala BNPB disambut oleh Bupati Limapuluh Kota Irfendi Arbi, Forkopimda Limapuluh Kota, kepala BPBD Limapuluh Kota, para petugas dan relawan BPBD serta para pengungsi.


Dalam kunjungan tersebut Letjen Doni berusaha mendengar dan menyerap aspirasi para pengungsi.

Selain itu Doni Monardo mengatakan, banjir bandang dan longsor di Nagari Taram disebabkan banyak faktor, selain curah hujan tinggi, tofografi, ada juga ulah manusia.


"Sebelumnya sudah pernah terjadi banjir bandang disini, seharusnya kita lebih bijak menyikapinya, ada pepatah Minangkabau mengatakan 'Alam Takambang Jadi Guru', jadi jangan lagi alam kita dirusak," kata Doni Monardo.

Pepatah ini mengajarkan kepada masyarakat minangkabau secara umum untuk senantiasa menjadikan alam sebagai guru. Alam jangan dirusak. Satu sama lain sangat mempengaruhi terjadinya bencana tersebut.

Menurut Doni Monardo, banyak masyarakat menebang pohon sembarangan, hanya karena ingin buka halan baru. Karena pohonnya ditebang, jadi material tanah bersama bebatuan yang sudah tidak ada pengikatnya (akar pohon), akan dengan mudah meluncur ke bawah kemudian membendung sungai dan terjadi banjir bandang.

"Banjir bandang ini diakibatkan curah hujan beberapa hari ini terus meningkat, ditambah faktor topografi yang kemiringannya hingga 50 derajat, menyebabkan debit air naik drastis hingga mencapai mencapai tiga meter," ucapnya.

Seperti dijelaskannya faktor lainnya adalah karena topografi di sekitar nagari Taram banyak membuka lahan baru mengakibatkan permukaan tanahnya terkupas, air yang masuk ke dalam celah-celah bukit berpotensi terjadinya longsor.

"Saya berharap masyarakat bisa menyadari dimana membuka ladang ataupun kebun yang tidak sesuai dengan tempatnya, bisa memberikan dampak negatif terhadap lingkungan," jelasnya.

Selain itu Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit, mengimbau masyarakat agar selalu meningkatkan kewaspadaan, terlebih lagi saat intensitas hujan cukup tinggi.

"Apabila hujan masih terus menguyur, saya minta masyarakat harus lebih waspada, cari tempat berlindung yang lebih aman," tuturnya.

Wagub Nasrul Abit menyebutkan, kerusakan alam dan ekosistem menjadi penyebab utama terjadinya bencana alam. Berbagai bencana yang terjadi di Sumbar, karena pengaruh faktor cuaca seperti banjir, tanah longsor dan puting beliung maupun cuaca ekstrem masih mengancam.

"Untuk itu, perlu kesadaran masyarakat yang harus di tingkatkan, serta peran seluruh pihak sangat penting untuk pencegahan kerusakan lingkungan," ujar Nasrul Abit.


Selanjutnya Kepala BNPB Doni Monardo menyerahkan bantuan Dana Siap Pakai (DSP) sebesar 500 juta rupiah untuk penanganan bencana banjir yang melanda Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Kamis (12/12).


Kemudian dalam kesempatan itu BPBD Sumbar juga memberikan bantuan berupa sarung sebanyak 80 lembar, 20 kotak makanan siap saji, 20 kotak keperluan keluarga, 1 tenda pengungsi, 20 buah tempat tidur lipat, 2 paket perlengkapan dapur dan 50 terpal yang diserahkan langsung oleh Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit. (nov)

Kepala BNPB Kunjungi Korban Banjir Bandang Nagari Taram

Friday, December 13, 2019 : 2:01:00 PM
Kunjungi Korban Banjir Bandang, Kepala BNPB Minta Masyarakat Sikapi Pepatah Minangkabau 'Alam Takambang Jadi Guru'




LIMAPULUH KOTA, murainews.com -- Hujan deras masih mengancam di Kabupaten Limapuluh Kota,  hingga saat ini banjir merendam sejumlah rumah di Nagari Taram Kecamatan Harau, Kabupaten Lima puluh kota, Sumatera Barat, Selasa (12/12/2019).

Letnan Jenderal TNI Doni Monardo Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) didampingi Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit dan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar Erman Rahman berserta rombongan, meninjau langsung lokasi tempat para pengungsian.

Rombongan Kepala BNPB disambut oleh Bupati Limapuluh Kota Irfendi Arbi, Forkopimda Limapuluh Kota, kepala BPBD Limapuluh Kota, para petugas dan relawan BPBD serta para pengungsi.


Dalam kunjungan tersebut Letjen Doni berusaha mendengar dan menyerap aspirasi para pengungsi.

Selain itu Doni Monardo mengatakan, banjir bandang dan longsor di Nagari Taram disebabkan banyak faktor, selain curah hujan tinggi, tofografi, ada juga ulah manusia.


"Sebelumnya sudah pernah terjadi banjir bandang disini, seharusnya kita lebih bijak menyikapinya, ada pepatah Minangkabau mengatakan 'Alam Takambang Jadi Guru', jadi jangan lagi alam kita dirusak," kata Doni Monardo.

Pepatah ini mengajarkan kepada masyarakat minangkabau secara umum untuk senantiasa menjadikan alam sebagai guru. Alam jangan dirusak. Satu sama lain sangat mempengaruhi terjadinya bencana tersebut.

Menurut Doni Monardo, banyak masyarakat menebang pohon sembarangan, hanya karena ingin buka halan baru. Karena pohonnya ditebang, jadi material tanah bersama bebatuan yang sudah tidak ada pengikatnya (akar pohon), akan dengan mudah meluncur ke bawah kemudian membendung sungai dan terjadi banjir bandang.

"Banjir bandang ini diakibatkan curah hujan beberapa hari ini terus meningkat, ditambah faktor topografi yang kemiringannya hingga 50 derajat, menyebabkan debit air naik drastis hingga mencapai mencapai tiga meter," ucapnya.

Seperti dijelaskannya faktor lainnya adalah karena topografi di sekitar nagari Taram banyak membuka lahan baru mengakibatkan permukaan tanahnya terkupas, air yang masuk ke dalam celah-celah bukit berpotensi terjadinya longsor.

"Saya berharap masyarakat bisa menyadari dimana membuka ladang ataupun kebun yang tidak sesuai dengan tempatnya, bisa memberikan dampak negatif terhadap lingkungan," jelasnya.

Selain itu Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit, mengimbau masyarakat agar selalu meningkatkan kewaspadaan, terlebih lagi saat intensitas hujan cukup tinggi.

"Apabila hujan masih terus menguyur, saya minta masyarakat harus lebih waspada, cari tempat berlindung yang lebih aman," tuturnya.

Wagub Nasrul Abit menyebutkan, kerusakan alam dan ekosistem menjadi penyebab utama terjadinya bencana alam. Berbagai bencana yang terjadi di Sumbar, karena pengaruh faktor cuaca seperti banjir, tanah longsor dan puting beliung maupun cuaca ekstrem masih mengancam.

"Untuk itu, perlu kesadaran masyarakat yang harus di tingkatkan, serta peran seluruh pihak sangat penting untuk pencegahan kerusakan lingkungan," ujar Nasrul Abit.


Selanjutnya Kepala BNPB Doni Monardo menyerahkan bantuan Dana Siap Pakai (DSP) sebesar 500 juta rupiah untuk penanganan bencana banjir yang melanda Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Kamis (12/12).


Kemudian dalam kesempatan itu BPBD Sumbar juga memberikan bantuan berupa sarung sebanyak 80 lembar, 20 kotak makanan siap saji, 20 kotak keperluan keluarga, 1 tenda pengungsi, 20 buah tempat tidur lipat, 2 paket perlengkapan dapur dan 50 terpal yang diserahkan langsung oleh Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit. (nov)